source : http://www.kompas.com

Pejuang Hamas bertempur di jalanan melawan pasukan Israel di Kota Gaza, Selasa (13/1). Pesawat tempur Israel juga membombardir Gaza dari udara ketika korban tewas mendekati 1.000 orang.

“Ini adalah hari ke-18 serbuan Israel terhadap rakyat kita dan semakin hari semakin ganas seiring jumlah korban yang bertambah banyak,” kata Presiden Palestina Mahmoud Abbas kepada AFP.

“Israel terus melakukan serbuan ini untuk menghilangkan rakyat kita di sana,” kata Abbas dari markasnya di Tepi Barat.

Pasukan khusus Israel didukung tank dan serangan udara makin jauh masuk ke kota Gaza hingga tinggal beberapa ratus meter dari kawasan-kawasan permukiman di selatan. Penduduk mengatakan, terjadi tembak-menembak yang sengit di kawasan permukiman Zeitun dan penampungan pengungsi Jabaliya di pinggiran Gaza.

Israel juga menjatuhkan gelombang serangan bom di kota perbatasan Rafah sehingga ratusan orang berlarian ke jalan. “Terjadi serangan udara yang terus-menerus di sepanjang perbatasan Mesir—sekitar 60 keluarga telah meninggalkan rumah mereka yang terletak beberapa ratus meter dari perbatasan,” kata Harb, warga Palestina yang bekerja untuk badan bantuan internasional CARE.

Kantor kemanusiaan PBB UNOCHA mengemukakan, pihaknya tidak dapat memastikan jumlah warga yang sudah mengungsi dari rumah mereka. Namun, UNOCHA menyatakan, lebih dari 35.000 orang pada hari Senin telah masuk ke penampungan-penampungan. Jumlah itu berarti peningkatan 7.400 pengungsi dari 24 jam sebelumnya.

Sumber-sumber medis Palestina mengemukakan, pada hari ke-18 serangan itu, 70 orang tewas sehingga jumlah total korban meninggal akibat serangan Israel adalah 975 jiwa warga Palestina ditambah 4.400 lainnya cedera.

Komandan militer Israel mengatakan bahwa Operasi Cast Lead telah menghasilkan kemajuan. Namun, dia mengatakan, pasukan Israel menghadapi kondisi “serba sulit” di Kota Gaza. Mereka tidak punya pengalaman tempur di kota berpenduduk 1,5 juta warga Palestina itu.

Delegasi Hamas saat ini berada di Kairo untuk membahas usulan mengakhiri pertempuran. Usulan itu disusun Presiden Mesir Hosni Mubarak dan didukung negara-negara barat.

Tokoh senior Hamas Mussa Abu Marzuk mengakui pihaknya punya “pandangan yang kokoh” atas prakarsa itu, tetapi juga mengatakan “masih ada harapan” mereka mau menerima usulan itu.